Friday, October 11, 2019

Hari Kesehatan Mental dan Beberapa Pertanyaan Pribadi yang Tinggal



Trigger Warning : bunuh diri, suicide, rant, dan pertanyaan super personal.

Jadi, kali ini saya duduk di salah satu kafe minuman terkenal, membeli salah satu minuman panas dan meminumnya dengan terbatuk. Pasal cerita, ada banyak kesulitan yang saya hadapi selama dua minggu bekalangan--mulai dari hp yang dicuri di mobil sampai stress memulai skripsi yang membuat saya sakit sampai hari ini. Lalu, kemarin adalah hari yang disebut banyak orang sebagai hari dimana kita memberikan upaya-upaya untuk menjadi 'sehat'. Saya beri kutip karena bukan sehat fisik yang saya maksud. Hari tersebut adalah Hari Kesehatan Mental Sedunia.


Pertama kali dirayakan pada tahun 1992, sekarang perayaan hari ini terasa berlalu saja bagi saya. Saya hanya melihat beberapa foto teman saya dengan berbagai pose, dengan template yang sama (alias tren-masa-kini-dear-twibbon) yang sering dikatakan efektif mengangkat awareness di dunia maya (katanya). Twitter juga ramai dengan thread pengalaman dan kata-kata mutiara. Rata-rata narasi di Instagram dan Twitter yang muncul adalah "you're not alone" dan sejenisnya. Jujur saja saya cukup bosan dengan kata-kata ini (oke maafkan postingan ini akan terlalu personal, tapi memang ini adanya). Setelah mencari kepada ahjussi Google, akhirnya saya tahu penyebabnya.

(Oiya, jangan lupa di Twitter ada hashtag #WorldMentalHealthDay dengan pita hijau agak gelap)



Tema yang diambil tahun ini adalah suicide prevention. Iya, pencegahan bunuh diri. Meskipun sudah ada harinya September lalu, rasanya penting bagi World Federation of Mental Health untuk kembali membuka isu ini. Tidak terkejut juga, mengingat dari dua tahun silam banyak kasus bunuh diri yang diperbincangkan. Mulai dari para artis sampai orang biasa yang stres karena skripsi. Ada satu kejadian yang cukup dekat dengan saya, tapi saya rasa kurang baik menyampaikannya ketika salah satu diantara mereka sekarang sedang bersenang hati dengan rekannya di Amerika sana.

Ada beberapa aksi juga yang dilakukan oleh beberapa organisasi. WHO punya "40 seconds of actions", sementara Mental Health Foundation London punya "WAIT". Beberapa organisasi juga punya gerakan tersendiri. Tapi tetap saja, apapun gerakannnya, pasti berakhir dengan kata "you're not alone".

Mengapa saya bosan dengan kalimat itu?

(Kali ini akan penuh dengan rant. Dan tidak bermaksud menyinggung siapa-siapa. Hanya menyalurkan saluran otak yang tersumbat)

Kamu tidak sendiri. Ya, kita memang tidak pernah sendiri sejak lahir. Ada banyak orang yang berada di antara kita dari saat kita lahir sampai sekarang. Ada yang melakukan hal yang baik, ada yang melakukan hal yang membuat trauma masa kecil. Jadi, apakah kita sendiri? Sebenarnya tidak. Jadi apa yang membuat orang mengatakan "aku sendiri", "aku tidak punya teman", dan lain sebagainya?

Ada satu cerita menarik ketika saya SMA. Waktu saya belajar BK, ada tugas untuk membuat surat kepada sahabat di dalam kelas. Jujur, saya tak pernah punya sahabat yang sangat erat (perbedaan dengan SMP dan kuliah. Masa kuliah saya tidak peduli lagi mau punya 'sahabat' atau tidak) dan punya kesamaan sudut pandang dengan saya. Apalagi mengerti kesulitan internal saya. Jadi saya katakan "saya tidak punya sahabat satupun di sekolah ini". Saya akhirnya tetap menulis surat untuk entah siapa, dengan isi yang saya sudah lupa tapi guru BK saya (katanya) menangis membaca surat itu. Saya pun mendapat surat dari banyak teman saya yang mengaku "dekat" "menganggap sudah menjadi sahabat saya" "kita tidak pernah sendiri" dan beberapa kata mutiara lainnya. Saya membenarkan beberapa diantaranya, dan buku berisi surat itu sudah hilang ketika saya orientasi UKM.

Saya kira kalimat itu sungguh sudah sangat lama menjadi jargon pencegahan bunuh diri. Saya pernah menemukan website yang memuat informasi mengenai senjata bunuh diri dan rasa sakit yang didapatkan, akan tetapi pada akhirnya pemilik website sekaligus penyintas bunuh diri juga menyarankan untuk memikirkan beberapa hari dan menghubungi keluarga terdekat.  Meyakinkan bahwa kita tidak sendiri. Baik, solusi dia benar, tapi masih ada beberapa pertanyaan mengganjal yang saya pikirkan.

Bukan bagaimana kita tidak sendiri dalam menghadapi kehidupan, sehingga kita tidak jadi memutuskan bunuh diri. Hal yang mengganjal itu adalah : berapa banyak orang yang akan mengerti permasalahan internal kita seutuhnya? berapa banyak orang yang hanya memberikan solusi dari sudut pandangnya tanpa tahu apakah solusi itu bekerja? berapa banyak orang yang benar sungguh mendengarkan?

Kalau memang semua orang yang ada di sekitar kita benar-benar mendengarkan dan ada, tidak akan ada yang akan mengadu ke internet dan percaya dengan akun disekitarnya yang sama-sama hampir bunuh diri. Tidak akan ada juga artis yang dikelilingi anggota grup, keluarga, peliharaan, dan rekan yang lebih dari sayang dan tahu keadaan mereka yang akhirnya memilih mengakhiri hidupnya. Tidak akan ada pula orang-orang yang bunuh diri karena hal yang sebenarnya bisa diatasi.

Jadi, apa kita tidak sendiri? Atau sendiri dalam ketidaksendirian? (bukan keramaian karena artinya beda :))

Lalu, pertanyaan mengenai pencegahan selalu berkisar pada "bagaimana mencegah bunuh diri?". Padahal mencegah satu episode bunuh diri belum tentu mencegah episode lainnya. Ada satu pertanyaan alternatif yang muncul dari beberapa pengamatan. "bagaimana membuat ia tak lagi berpikir bahwa mengakhiri hidup adalah jalan terakhir?" "bagaimana ia bisa membuat hidupnya nikmat tanpa kesulitan berarti?"

Akan tetapi pertanyaan ini tentu bermuara pada bagaimana orang disekitarnya benar-benar ada dan mendengarkan. Bagaimana fasilitas disekitarnya mendukung. Bagaimana orang disekitarnya tidak melakukan diskriminasi dan stigma karena perbedaan pandangan tentang 'kesulitan'. Bagaimana pihak terkait memberikan pelayanan yang bukan hanya terjangkau tapi juga berarti bagi individu. Serta banyak pertanyaan lainnya.

Menjelang saya bisa menjawab, saya hanya bisa belajar, menganalisis banyak hal, dan berusaha untuk memahami pemikiran banyak manusia bahwa "hidup bukan tentang diri sendiri tapi orang lain" :)

With love,

1 comment spilled

  1. Rest in peace Jong
    Rest in Peace Sulli

    Semoga Taeyeon kuat dan bertahan hingga tua nanti tanpa depresi atau keinginan buuh diri :'(

    #masihberduka

    ReplyDelete

Please comment the post after you read it!
your praise, critique, and other is recomended to improve this blog! ^^

P.S : not important comment is skipped :p