Sunday, November 17, 2019

Sepenting Apakah Gizi Pada Kita?


Halo semuanya!
Setelah membahas mengenai Hari Kesehatan Mental Sedunia (yang cukup privat), sekarang kita beranjak pada Hari Kesehatan Nasional. Berbeda dengan perayaan sedunianya pada bulan April, HKN dirayakan setiap tanggal 12 November setiap tahunnya. Tema yang kali ini diangkat adalah "Generasi Sehat, Indonesia Unggul", mengangkat seputar gaya hidup sehat. Berbicara tentang gaya hidup sehat, tentu tak lepas membicarakan mengenai gizi makanan. Mengapa?

Sebelumnya, sedikit rincian.



Jadi, beberapa hari lalu, dalam rangka Hari Kesehatan Nasional, saya diajak oleh YAICI yang bekerjasama dengan Aiysyiah Sumatra Barat untuk memperdalam keilmuan mengenai pola hidup sehat, seperti tema HKN tahun ini. Kegiatan ini melibatkan beberapa blogger lainnya, dan kegiatannya lumayan seru!

Nah balik lagi, kok bicara pola hidup sehat harus membahas gizi?

Gizi dan Psikologis Manusia

Sesuai dengan filosofi weblog ini, mari kita bahas bagaimana pengaruh gizi makanan yang kita makan dengan keadaan psikologis. Menurut beberapa penelitian menarik (1 2 3) yang saya baca, gizi yang kita dapat dari makanan yang kita makan sehari-hari sangat berpengaruh pada keadaan psikologis kita. Apalagi pada kondisi psikologis anak yang berada pada usia emas (1-5 tahun). Pada saat ini, anak mengalami perkembangan yang pesat. Jika tidak diberikan gizi seimbang, tentunya akan menghambat perkembangan anak. Kegagalan perkembangan yang disebabkan kekurangan gizi disebut dengan stunting.

Stunting merupakan keadaan dimana seorang anak memiliki tubuh yang tingginya kurang dari standar (alias kependekan). Selain tubuh yang terlalu pendek, stunting juga ditandai dengan kecenderungan stagnan bahkan turunnya berat badan, terlambatnya pertumbuhan gigi dan menurunnya kemampuan belajar. Menurut penutur pada kegiatan ini, meskipun data menunjukkan rata-rata stunting sudah dapat diatasi di Sumatra Barat, masih ditemukan kasus stunting ketika pergi ke pedalaman yang benar-benar tidak disentuh oleh pendata.

Lalu apakah stunting ini berpengaruh pada keadaan psikologis anak? Tentu saja! Perkembangan bukan hanya terganggu pada fisik saja, tapi pada kognitif dan emosional anak. Bahkan potensi gangguan psikologis dapat didorong dari kurangnya gizi kita ketika anak-anak dahulu. Menurut salah satu penelitian yang dilakukan di daerah Afrika, anak-anak yang mengalami stunting kurang maksimal dalam melakukan tugas-tugas kognitif yang diberikan, dibandingkan dengan anak-anak normal.


Pola Asuh Dalam Pengaturan Gizi Keluarga

Nah, menurut penutur materi, salah satu faktor masih kurang bagusnya pengaturan gizi keluarga (yang berakibat stunting) adalah pola asuh orang tua. Mulai dari prioritas pembelian makanan sehat daripada kebutuhan lain seperti rokok dan kuota internet, sampai enggannya banyak orangtua untuk mencari informasi terkait dengan pola hidup sehat. Tapi, sebenarnya apakah pengaruh pola asuh orangtua pada pengaturan gizi anak? Menurut artikel yang dirilis Healthline, ada empat pola asuh orangtua dalam memberikan asupan gizi pada anak, yaitu :
  1. Authoritarian, yang terlalu membatasi pola makan anak dan memberikan tekanan berlebihan pada anak agam memakan makanan yang dipilih.
  2. Permissive, yang mengizinkan anak untuk memakan apa saja yang ia inginkan tanpa batasan.
  3. Neglectful, yang sangat jarang menyajikan makanan dan memberikan asupan makanan pada anak. Apalagi akan mencari informasi mengenai pola makan sehat.
  4. Authoritarive, yang lebih memberikan batasan dan pertimbangan pada anak untuk memperhatikan pola makannya.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Horst dan Sleddens, orangtua yang terlalu protektif pada makanan anak dapat menyebabkan kurang sehatnya pola makan anak. Sementara penelitian pada The American Journal of Clinical Nutrition menyatakan bahwa pada keluarga minoritas yang berpenghasilan rendah, pola authoritative berpengaruh pada perbaikan pola makan keluarga dimana kualitas makanan tertinggi pada penelitian ini menggunakan pola asuh authoritative.

menurut kamu bagaimana fenomena ini nak? he.. hee... gimana ya buk

#BijakPakaiSusuKentalManis dan #AwasiIklanSKM Trending di Twitter

Bersamaan dengan kegiatan ini, ada dua hashtag yang berseliweran di trending twitter yaitu yang ada di judul ini. Bahkan kompas pun ikut meliput terkait hashtag dan kegiatan ini. Lah? Apa hubungannya kegiatan ini dengan hashtag yang trending? Konspirasi?

Bukan, bukan!

Salah satu dari bagian kegiatan berikut adalah edukasi kesehatan mengenai susu kental manis atau sebut saja SKM. Apa hal? Sebelum lanjut, silakan cek pariwara berikut :



sumber : healthline.com

SKM : si populer yang disalahgunakan

Mungkin semuanya sudah pernah menonton (atau belum pernah) video viral di internet mengenai branding yang salah total mengenai susu kental manis. Masuk sejak tahun 70-an di Indonesia, susu kental manis selalu diwarnai iklan yang menggambarkan : bayi, anak, keluarga, minum susu dalam gelas. Seakan-akan jenis produk ini lebih bergizi dibandingkan susu UHT. Setelah lebih 10 tahun, barulah dibahas sesuatu yang sebenarnya... mengejutkan.

Pasalnya, susu kental manis dalam bahasa kasarnya hanyalah gula rasa susu. Bayangkan dalam segelas susu kental manis yang disajikan cair, perbandingan gula adalah dua kali susu. Jika selama ini ibu-ibu sudah sangat sering mengonsumsi SKM dengan cara diminum, berapa gula yang sudah berada dalam tubuh anak? Tidak mengejutkan jika diabetes pun saat ini bisa dialami oleh kaum muda, karena meminum 'susu' yang sebenarnya kebanyakan gula.

sumber : unsplash

Bagaimana seharusnya menggunakan SKM?

Susu kental manis seharusnya hanya digunakan untuk tambahan pada makanan yang akan disajikan. Misalnya pada roti bakar, topping sup buah, dan lain sebagainya.

Bagaimana menghindari bahaya dari SKM dan jenis makanan berbahaya lain?

CEK LABEL NUTRISI!
Tips ini sungguh efektif, karena yang kita lihat bukan hanya harga maupun label halal MUI saja, tetapi juga jumlah gizi yang ada di dalam makanan dan minuman, peringatan penyajian, serta izin BPOM. Izin BPOM juga dapat dicek melalui website dan aplikasi gawai mereka. Hal ini berguna untuk menguji apakah makanan dan minuman sudah lulus setelah diuji oleh BPOM.

Contohnya pada sekotak susu kedele ini, terdapat 16,8 gram karbohidrat, 13 gram gula, 4,8 gram protein, 5.6 gram lemak, dan beberapa zat lainnya. Dengan melihat gizi apa saja yang dikandung dalam makanan dan minuman, kita dapat menentukan makanan dan minuman apa yang akan kita konsumsi dan mana yang tidak. Sehingga tubuh kita akan lebih sehat karena sudah ada filter dari apa yang kita lihat pada kemasan produk.

Penutup

Tentunya perbaikan gaya hidup harus juga dibarengi dengan perbaikan kesehatan mental. Jangan lupa istirahat, minum air putih dan berbahagia ya!

perkenalkan, blogger, blogger, blogger, blogger, blogger, blogger, blogger, dan blogger :p
With love,

3 comments spilled

  1. Hey, kak PuJp ��

    Keren, mendalam, dan menarik.
    Terima kasih ya, kak.

    Salam kenal,
    @terryselvy

    ReplyDelete
  2. Smart info!
    Puji kalo soal kesehatan begini membara banget yes apinya wkwkkw

    Btw monmaap aku ngakak baca tweet itu wkwkwkwkwkkw

    ReplyDelete
  3. Wah ada pembahasan dari pengaruhnya ke psikologis. Kesehatan fisik dan psikis memang salin berhubungan satu sama lain ya kak? ^_^

    ReplyDelete

Please comment the post after you read it!
your praise, critique, and other is recomended to improve this blog! ^^

P.S : not important comment is skipped :p