Halo semuanya!
Judul postingan berikut bukan untuk mengeluh ya!
Memang benar, menunggu itu bosan. Menunggu itu menyebalkan. Saya pun kadang juga kesal menunggu sekian lama ketika datang tepat waktu. Tapi postingan ini bukan untuk membahas itu. Postingan ini membahas kegiatan menunggu yang menarik bagi saya, menunggu yang secara vibes sangat menenggelamkan saya dalam suasana.
Jadi saudara-saudari, pada hari yang cerah di tahun 2024 saya sudah diberikan pesan oleh WhatsApp Gramedia bahwa kegiatan peluncuran buku Eka Kurniawan akan ditunda dari jam satu siang ke jam tiga siang. Tidak masalah bagi saya, saya juga bisa berjalan-jalan ke GOR Agus Salim terlebih dahulu setelah melakukan kegiatan yang barengan dengan keluarga saya. Saya melihat-lihat hoodie trift shop, melihat warung-warung jualan, sampai makan sushi di Citra terdekat. Setelah itu, saya pergi ke Gramedia.
Saya sampai di sana jam tiga sore, dan saya bertemu Ejak a.k.a unirerereza yang memang suka mendatangi acara peluncuran buku selain nonton bioskop. Pertama, peserta diberikan popcorn gelas kecil dan air kemasan gelas. Sesuai dengan bagian acaranya dimana akan ada acara menonton "Tak Ada Yang Gila di Kota Ini". Pasalnya, beliau berhasil membeli buku terbaru Eka Kurniawan "Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong" dengan harga lebih murah dari harga pre-order di banyak situs.
Saya sempat membuka gawai dan melihat berita penampilan idol yang bahkan mainstream saja mungkin tidak peduli di twitter. Lalu saya ke youtube dan memutar video mereka menyanyikan theme song dari show yang mungkin hanya 1000 dari seluruh masyarakat Korea Selatan yang peduli. View video tersebut saja hanya menyentuh tiga digit. Meskipun begitu, jujur saya lebih menyenangi raw performance mereka daripada raw performance artis lainnya yang mainstream (tolong ini hanya preferensi).
Ketika buku baru Ejak sudah sampai di beberapa orang yang penasaran dengan sampul dan isinya, saya pun meminta izin untuk melihat (sekaligus membaca) bukunya "sebentar". Sebentar yang berbuah menjadi tiga puluh menit, satu jam dan dua jam. Satu halaman, menjadi berhalaman-halaman ditemani video perempuan muda korsel menari-nari karena Eka Kurniawan masih dalam perjalanan dari Medan ke Padang, kemudian dari Bandara Internasional Minangkabau ke Gramedia. "Wuih, capek mambaconyo lai," ujar Ejak ketika saya sudah sampai sepertiga dari novel tersebut.
Membaca cepat bukan hal baru bagi saya. Sejak kecil saya sudah dapat menyelesaikan bacaan tipis dalam waktu sejam saja. Tentu, jika saya perlu untuk memahami lebih dalam saya akan membacanya berkali-kali. Beberapa bacaan cukup dapat saya pahami dalam waktu cepat. Apakah skill ini sering diperdebatkan? Tentu, akan tetapi kemampuan membaca seseorang berbeda bukan?
Sambil kadang melantunkan lagu yang diputar di youtube dalam hati, saya melanjutkan membaca novel baru Eka Kurniawan sambil terkadang mendengarkan beberapa patah kata dari panitia. Pelan-pelan, penulis beserta timnya tiba di Bandara Internasional Minangkabau, lalu berangsur-angsur menuju Gramedia (jalur jalan dr hamka terkenal dengan kemacetan di sekitar Basko Grand Mall, kecuali lewat jalan bypass yang meskipun tidak macet cukup ramai).
Singkat cerita, setelah dua jam menunggu, tim mereka akhirnya tiba di Gramedia. Saya masih membaca buku tersebut ketika mereka mempersiapkan acara dan menonton film. Saya dengan cepat membaca lembaran tulisan sembari menonton video yang daritadi saya putar berkali-kali sembari menonton Tak Ada Yang Gila di Kota Ini.
Saya sudah pernah menonton film ini di penyedia film online legal, dan saya pribadi sangat menyukai tema dalam film ini. Akan tetapi, saya juga merasakan ironi dari betapa tersembunyinya bias ableisme penulis dalam cerpen dan film ini, dan bagaimana ableisnya masyarakat menggunakan fenomena "orang gila" yang juga berekstensi ke keadaan lainnya seperti "skizofrenia" hanya untuk mendapatkan uang instan dan kemerdekaan finansial. Tentu dengan berpura-pura menjadi bagian mereka yang terpinggirkan.
Saya sedikit buru-buru menyelesaikan buku ini karena waktu setelah acara cukup pendek dan saya harus pulang agak cepat sebelum terlewat angkot terakhir. Akan tetapi, saya sudah cukup terkesima dengan penulisan Eka Kurniawan mengenai religious trauma. Serta bagaimana orangtua tidak akan segan-segan melempar nintendo switch seharga 11 juta rupiah ke jendela mobil yang berjalan hanya karena anak tidak mau shalat, lalu terkejut ketika anaknya terlibat pengrusakan nintendo switch anak lainnya atau pengrusakan mental anak lain.
Tentu tidak menafikan bahwa Eka Kurniawan adalah penulis pria, dan memiliki bias bias privilese sebagai pria yang tetuang dalam beberapa bukunya yang lain yang saya sekarang tidak nyaman membacanya. Mungkin saya harus mencoba membaca cepat penulis perempuan atau kwir dan mengeposnya di blog ini.
With love,




No comments spilled
Post a Comment
Please comment the post after you read it!
your praise, critique, and other is recomended to improve this blog! ^^
Berilah komentar setelah membaca blog. Baik kritik saran dan lainnya dibolehkan ^^