Halo semua!
Kali ini saya ingin membahas lebih banyak mengenai evergreen content, yang saya bahas di postingan sebelumnya. Saya menyatakan bahwa evergreen content adalah salah satu cara portal berita agar dapat ride a wave. Akan tetapi saya menyadari sesuatu...
Portal berita merupakan media yang membayar karyawannya. Karena itu sangat wajar jika evergreen content jika dicari akan memunculkan konten terkait digital marketing semua. Sesuatu hal yang jujur agak menyedihkan menurut saya. Pasalnya, banyak blog pribadi yang menulis sesuatu yang *evergreen*.
- resep makanan adalah sesuatu yang evergreen, dan tentu jika blog pribadi tersebut tidak peduli seo bisa saja ia sembarangan menulis resep yang ia suka maupun resep yang dianggap tidak lumrah bahkan tidak disukai algoritma
- tutorial blog pun juga sesuatu yang evergreen. bahkan satu tutorial bisa saja melengkapi tutorial yang lain.
- banyak tutorial yang berhubungan dengan minat yang jarang dibicarakan juga termasuk evergreen.
- cerita personal blog seperti berkeliling kota dengan sepeda punya aspek evergreen juga
- bahkan karya fiksi yang dimuat online pun juga punya aspek evergreen ketika membicarakan sesuatu yang.... akan selalu menjadi asumsi dasar dalam masyarakat.
Akan tetapi, ketika mencari sesuatu mengenai evergreen content, lebih banyak hal mengenai "bagaimana cara membuat evergreen content", "manfaat evergreen content terhadap trafik web", "ide-ide evergreen content" dan lain sebagainya yang tidak menonjolkan bagian personal, fragile, dan lack of marketing-y and content-y dari evergreen itu sendiri.
Mungkin hal itu wajar karena evergreen media awalnya adalah istilah jurnalistik, yang diadopsi oleh kawula content marketing menjadi evergreen content. Halaman wikipedia mengenai istilah tersebut menyatakan bahwa halaman tersebut sudah ada sejak 2010... 16 tahun yang lalu (saya tua). Wikipedia sendiri mengutip buku Bruce Garrisson "Professional Feature Writing" ketika salah satu kontributor menuliskan redaksi "cerita feature dan cerita pengalaman minat manusia biasanya sesuatu yang evergreen."
Bahkan buku tersebut memiliki lebih banyak ide yang bisa dituliskan dalam feature jurnalistik. pengalaman pribadi, pengalaman berjejaring, institusi pendidikan, pertemuan (baik professional maupun personal), rumah, perpustakaan, museum, sejarah (dan penutur sejarah), review publikasi, televisi, bahkan pertukaran informasi antar penulis, list email, forum komunitas (termasuk disc*rd), review website, bahkan kalender (????) bisa menjadi bahan ide dan juga topik yang digunakan dalam feature.
Semua diatas bisa diolah secara tren maupun secara evergreen. Bukankah semua itu personal? bukankah semua itu bisa ditulis tanpa mempedulikan engagement, trafik, dan ke-viral-an?
Sayang banyak pembahasan mengenai evergreen content berputar di beberapa topik yang saya sebutkan diatas. Bahkan ketika membahas mengenai pro-kontra dan permasalahan mengenai "evergreen content", yang dibahas adalah "konten ini susah viral", "konten ini jangkauannya terbatas", "kamu harus menjaga contentnya tetap evergreen", "menulis untuk pemula itu merusak strategi marketing jangka panjang" dan lain sebagainya.
Sekali lagi tentu, dalam konteks portal berita mereka adalah media yang membayar karyawan dan wartawannya. Tentu mereka perlu revenue. Meskipun begitu, penekanan hal ini dalam penulisan blog pribadi, bahkan sampai ke sosial media yang pribadi? Saya yakin banyak rekan sosial media yang jengah dengan ini, termasuk dengan keperluan kalau postingan mereka "bermanfaat untuk pekerjaan", "bermanfaat untuk branding" dan lain sebagainya.
Mungkin ini hanya keluhan saya yang berlebihan (dan berputar-putar. tapi saya memang sudah 30, dan dianggap tua disini.), karena lahan pekerjaan disini sangat jelek sampai-sampai sosial media dan blog pribadi harus jadi portofolio. Akan tetapi, ingin rasanya menyatakan, "ketika kamu menulis mengenai kehidupanmu dan pengalamanmu, itu sesuatu yang evergreen."
Mungkin yang saya cari bukan evergreen content, tapi evergreen stories, evergreen tidbits, dan suatu dan lain hal yang bukan "content." Jujur, saya bosan dengan alur alur sosial media mainstream (bahkan yang memiliki klaim desentralis) dengan semua "content"-nya. Saya bosan....
Huh...
Evergreen (sebagai media) berasal dari istilah evergreen yang merupakan jenis-jenis pepohonan yang tetap hijau dan lestari dari tahun ke tahun. Cukup banyak pohon yang termasuk ke dalam istilah payung ini, seperti pinus, cemara, pohon di hutan hujan, dan lain sebagainya. Evergreen juga merupakan salah satu jenis warna hijau dengan hex #05472A dan sRGB 5, 17, 42.
Menulis mengenai pohon tersebut atau kegunaan warna yang saya sebut diatas bisa dikatakan evergreen bukan? Atau haruskah saya menjadi blog dengan brand biologi dan desain dulu? Jujur hal tersebut memusingkan. Blog pribadi harusnya bebas menulis apa saja tanpa dilabeli "lifestyle blog" kan?
Jujur.... ini bukan lifestyle blog. Bahkan saya tidak pernah tertarik dengan gaya hidup atau gaya pakaian. Kecuali jika blog budaya juga disetarakan dengan "gaya hidup"
"Kalau blog tidak digunakan untuk ads portofolio atau duit gunanya beli domain apa?"
Well... here comes.... my next blog...
With love,



No comments spilled
Post a Comment
Please comment the post after you read it!
your praise, critique, and other is recomended to improve this blog! ^^
Berilah komentar setelah membaca blog. Baik kritik saran dan lainnya dibolehkan ^^